BERITAISTANA.ID

Proyek Hotmix Desa Soko Miri Diduga Mark Up Anggaran yang Dikerjakan Pihak Ketiga

Proyek Hotmix Desa Soko Miri Diduga Mark Up Anggaran yang Dikerjakan Pihak Ketiga

Bi | Sragen, -Pemerintah Indonesia melalui program Nawa Cita Pemerintah RI telah menggelontorkan Dana Desa mulai Tahun 2015 sebagai implementasi dari UU Desa No.6 Tahun 2014. Dimana UU Desa telah menempatkan desa sebagai ujung tombak pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Desa Soko yang mana Sejak 2018 dilarang mengunakan pihak ketiga.

Desa memiliki kewenangan penuh dalam mengelola potensi yang dimilikinnya guna meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Dana Desa mulai banyak dirasakan manfaatnya di tahun keenam berjalan ini, selain nominal yang setiap tahun meningkat tetapi lebih pada tujuannya yang sangat bermanfaat untuk pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa.

Namun hal tersebut berbeda dengan yang terjadi di Desa Soko Kecamatan Miri Kabupaten Sragen dimana diduga banyak pelanggaran terjadi yang tidak sesuai dengan Undang-Undang dan Peraturan-peraturan lainnya pada kegiatan.

Dimana Dana Desa yang mempunyai prinsip swakelola dan berbasis sumber daya desa yang seharusnya pelaksanaan pembangunan dan pemberdayaan desa mengutamakan pelaksanaan secara mandiri dengan mengutamakan tenaga, pikiran, dan keterampilan warga desa dan kearifan lokal namun pada kenyataannya pelaksanaan kegiatan hotmix tersebut diserahkan pihak ketiga tanpa proses yang benar. Jelas ini melanggar UU No.6 Tahun 2014, PP No.43 Tahun 2014. Yang seharusnya pekerja berasal dari masyarakat setempat, tetapi dalam konteksnya kegiatan hotmix tersebut malah diserahkan pihak ketiga.
Ini menunjukkan lemahnya fungsi pembinaan dan pengawasan dari Pihak Kecamatan Miri. Sehingga Pemerintah Desa diduga melakukan Mark Up anggaran. (Kamis 23/7/2020)

Proyek yang digarap sekitar bulan meiĀ  kemarin tersebut saat ini kondisinya sudah memprihatinkan. Aspal sudah pecah-pecah dan bahkan ada rumput yang tumbuh diatasnya.

Proyek hotmix ini mempunyai volume 900 x 3 meter, dengan anggaran pengerjaan senilai Rp. 296.000.000,- yang bersumber dari Dana Desa Tahun anggaran 2019 yang dikerjakan pihak ketiga.

Aktivis muda Sragen Warsito saat dikonfirmasi awak media berita istana memaparkan bahwa pada pekerjaan proyek hotmix tersebut diduga terjadi Mark Up anggaran, pasalnya jika dihitung secara teknis pembangunan jalan hotmix, pembangunan tersebut seharusnya hanya menghabiskan anggaran kisaran Rp.152.000.000,-.

“Ini hitungan kami secara teknis proyek jalan hotmix , hanya menghabiskan anggaran kisaran Rp.152.000.000,-.”. Terang Warsito dengan menunjukan tulisan rinci kepada awak media.

Warsito menganggap hal itu sangat tidak lumrah, dapat diduga melebihkan anggaran hampir separuh dari harga indeks DPUPR.

Warsito mengatakan pihaknya sudah berkomunikasi dengan Tamin Kepala Desa Soko. Warsito meminta agar dipertemukan dengan pihak Desa, TPK maupun BPD bagian seksi pembangunan. Tujuannya untuk diskusi membedah penggunaan anggaran pada proyek tersebut, tujuannya agar mencapai keterbukaan bersama dan demi keperluan informasi dilingkungan masyarakat.

“Penggunaan Dana Desa harus transparan, dan jangan sampai ada Mark Up pada anggaran. Jika menggunakan Dana Desa untuk pembangunan, sesuaikan saja dengan indeks harga dari DPUPR supaya tidak terjadi kelebihan anggaran. Kelebihan anggaran akan menjadikan sebuah kerawanan untuk ajang korupsi”. Tegasnya.

Salah satu warga setempat yang tidak berkenan disebut identitasnya mengatakan bahwa pekerjaan proyek hotmix memang dilaksanakan pada bulan Puasa lalu.

“iya mas, pekerjaan proyek dilaksanakan pada Bulan Puasa kemarin, mengenai kerusakan yang sudah terjadi sekarang saya tidak tahu. Kontur tanah bagi saya stabil, jadi sepertinya bukan karena faktor alam”. Paparnya.

Sementara Kepala Desa Soko Tamin saat dikonfirmasi melalui telfon ia menjelaskan, kalau pemerintah desa soko baru menyicil 152 juta rupiah kepada pihak ketiga. masalah hitungan nanti akan di hitung ulang dengan perangkat desa yang lain. Ungkapnya.

Lebih lanjut, untuk jelasannya Tamin meminta kepada awak media datang kerumah, karena masalah proyek saya tidak tau cara menghitungnya.

Disisi lain, camat Miri Ancil Sudarto AMP saat dikonfirmasi oleh awak media menanggapi hal itu ia mengatakan bahwa nanti pihaknya akan menurunkan team pendamping untuk mengecek bangunan tersebut. (Yn)

Editor : Umy

Related Articles

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Back to top button