Beritaistana.com
JAKARTA | – Di tengah hiruk-pikuk dunia informasi yang semakin kompleks, Hari Pers Nasional (HPN) tahun ini, Senin (9/2/2026) bukan sekadar momen perayaan. Bukan pula eforia yang hanya dinikmati sebagai wujud kebersamaan insan pers. Lebih dari itu, adalah saatnya kita semua – yang berkecimpung dalam dunia jurnalistik – berhenti sejenak, menatap jauh ke dalam diri, dan bertanya: Siapakah kita sebagai wartawan? Dan apa makna sebenarnya dari profesi yang kita emban?

Muhammad Iqbal Jasri, yang akrab disapa Elang / “Pewarta Sunyi” Pemerhati Media, Ketua salah satu Organisasi Pers negeri ini, sekaligus Pemilik Media Online Beritaistana.com dan Brebesnews24.com – dengan kedalaman pengalaman dan pandangan yang bijak, mengajak kita untuk menyelami lapisan terdalam perjuangan seorang jurnalis. Sebuah perjuangan yang seringkali berlangsung dalam sunyi, di mana logika dan hati terus berseteru, di mana integritas menjadi benteng terakhir yang harus dijaga dengan sekuat tenaga.
Antara Amplop dan Marwah Nurani
Setiap hari, seorang wartawan menghadapi pilihan. Pilihan yang tak selalu terlihat oleh mata publik. Di satu sisi, ada narasumber yang dengan lembut atau bahkan kasar menawarkan “bantuan” dalam bentuk amplop – sebuah godaan yang bisa langsung mengentaskan beban dapur keluarga yang selalu menanti. Di sisi lain, ada suara nurani yang terus berbisik: “Ingatlah, kamu adalah penjaga kebenaran.”

“Ini bukan hanya perjuangan antara hitam dan putih,” ujar Elang dengan nada yang penuh makna. “Ada saatnya logika kita digoda untuk melihat segala sesuatu dengan warna abu-abu. Tapi ketika kita mulai mengoleskan tinta untuk mengubah warna fakta sesuai keinginan orang lain, pada saat itu pula kita telah menjauh dari esensi profesi ini.”
Perjuangan itu berlangsung dalam ruang sunyi yang hanya bisa dirasakan oleh diri sendiri. Tidak ada sorak sorai ketika seorang wartawan menolak godaan yang menggoda. Tidak ada pujian ketika ia memilih untuk tetap berdiri tegak dengan membawa fakta yang sebenarnya. Yang ada hanya ketenangan hati dan keyakinan bahwa apa yang dilakukan adalah benar.

Ketika Citra Terusak oleh Oknum
Dunia jurnalistik adalah cermin nurani bangsa. Namun, keberadaan oknum yang mengaku diri sebagai wartawan justru menjadi noda yang sulit dihilangkan. Mereka yang memeras narasumber demi memenuhi hawa nafsu pribadi. Mereka yang menjadikan tinta sebagai alat untuk memoles kebenaran sesuai keinginan “tuan” mereka. Bahkan ada yang seperti “pengemis tinta” – siap mengubah segala sesuatu hanya untuk mendapatkan keuntungan materiil.
“Kehadiran mereka bukan hanya merusak citra profesi yang mulia ini,” jelas Elang dengan nada tegas namun penuh kesedihan. “Lebih dari itu, mereka merusak kepercayaan masyarakat terhadap pers – yang seharusnya menjadi pilar keempat demokrasi. Ketika publik mulai meragukan setiap berita yang mereka baca, itu adalah kerugian bersama yang tak ternilai harganya.”
Sebagai corong perubahan dan pembawa suara bagi mereka yang termarginalkan, seorang wartawan memiliki tanggung jawab yang luar biasa besar. Namun, tanggung jawab itu hanya bisa diemban dengan baik jika nuraninya masih mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. “Di saat nurani mu tidak bisa membedakan kebenaran,” tegas Elang, “di saat itu engkau tidak pantas disebut wartawan.”

Tanya Hati, Sebelum Mengaku Wartawan
Hari Pers Nasional tahun ini harus menjadi titik balik. Jangan sampai kita hanya merayakannya dengan acara-acara semata, tanpa ada refleksi mendalam tentang perjalanan kita sebagai insan pers. Mari kita semua bertanya pada hati sendiri: apa yang telah kita lakukan selama menjadi jurnalis? Apakah setiap kata yang kita tulis, setiap berita yang kita siarkan, berasal dari hati yang tulus dan berdasarkan fakta yang benar? Apakah kita memang layak untuk disebut sebagai wartawan?
Dalam akhir katanya, Elang mengutarakan kalimat bijak yang menyentuh hati: “Jika engkau masih merasakan sakit atas dirimu sendiri, berarti engkau masih hidup. Namun jika engkau merasakan sakit yang dirasakan oleh orang lain, maka engkau masih layak disebut manusia.”
Wartawan adalah pekerjaan mulia. Bukan ajang untuk membolak-balik fakta, bukan sarana untuk mengejar kepentingan pribadi. Melainkan sebagai wahana untuk membawa kebenaran, memberikan suara pada yang tidak bersuara, dan menjadi bagian dari perubahan menuju negeri Indonesia yang lebih baik.
Selamat Hari Pers Nasional 9 Februari 2026.
Semoga kita semua benar-benar bisa menjadi pilar keempat demokrasi yang dipercaya, yang menjaga marwah bangsa, dan yang bekerja dengan hati serta integritas yang tak tergoyahkan.
Salam satu pena.